Penurunan BI Rate tidak Efektif
Penurunan BI rate
Bank Indonesia kembali mengeluarkan kebijakan moneternya dengan menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin dari dari 7,5 % menjadi 7,25 %. Penurunan ini diharapkan dapat mendongkrak sektor riil dan peningkatan kapasitas industri domestik. Di sisi lain, harapannya dengan suku bunga acuan yang menurun akan memberi sentimen positif ke bursa saham dan obligasi karena investor akan menyebar portofolio investasinya ke bursa.
Efektivitas
Tapi penuruan BI rate ini tidak akan efektif jika tidak diikuti oleh penurunan suku bunga kredit perbankan (lending rate), bahkan tidak akan berefek apa-apa, khususnya pada sektor riil dan produksi dalam negeri.
Seharusnya perbankan harus cepat menyesuaikan penurunan BI rate itu dengan menurunkan lending rate-nya. Logikanya penurunan lending rate ini akan meringankan beban bunga bagi debitur, sehingga juga membantu menyehatkan keuangan perusahaan dan mendorong permintaan kredit baru. Kesulitan likuiditas juga diharapkan dapat teratasi.
Tetapi kenyataannya sampai saat ini belum ada bank yang menurunkan lending rate-nya, sehingga efektivitas belum bisa dirasakan. Sempat timbul prasangka buruk kalau perbankan memanfaatkan selisih rate ini untuk tujuan komersial.
-
No.11/14/PSHM/Humas
Setelah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan ekonomi dan keuangan di dalam dan luar negeri, Bank Indonesia pada hari ini memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 7,25%.
Gambaran dan perkembangan ekonomi global yang membaik direspon secara positif seperti terlihat dari berbagai indikator keuangan seperti indeks pasar saham dunia, dan spread premi risiko yang menurun tajam. Hal ini mendorong kembalinya modal masuk ke emerging markets termasuk ke Indonesia, yang berdampak pada penguatan mata uang Rupiah, peningkatan Indeks Harga Saham Gabungan dan perbaikan yield Surat Utang Negara. Namun Bank Indonesia mencermati bahwa perekonomian dunia diperkirakan masih mengalami kontraksi meskipun dengan laju yang melambat.
Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia 2009 masih akan berada pada kisaran 3-4%, didukung oleh permintaan domestik yang cukup baik disertai kinerja ekspor yang lebih baik dari perkiraan semula. Sementara itu, inflasi 2009 diperkirakan dapat mencapai batas bawah kisaran 5-7%. Pada akhir April 2009 cadangan devisa Indonesia meningkat hingga mencapai 56,57 miliar dolar AS.*
Kondisi perbankan nasional tetap terjaga baik. Rasio kecukupan modal masih cukup tinggi yakni 17,4% dengan Gross Non Performing Loan (NPL) tetap terkendali di bawah 5%. Likuiditas Perbankan, termasuk likuiditas dalam pasar uang antar bank makin membaik dan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat. Penyaluran kredit dalam triwulan I-2009 masih belum optimal, meskipun diharapkan akan meningkat dalam triwulan II-2009. *
*Data Bank Indonesia

Leave your response!