Peluang & Jalan Terjal Pasangan Capres-Cawapres
Tiga pasang Calon Presiden dan Wakil Presiden telah mendaftarkan diri ke KPU. Kini sudah sangat jelas wajah-wajah calon pemimpin bangsa kita yang akan datang.
“Sudah saatnya-lah bagi kita untuk mengenal, menimbang, dan menentukan, siapakah yang terbaik diantara mereka.”
Peluang
Meraba-raba soal peluang, secara matematis Pasangan SBY-Boediono -yang didukung Partai Demokrat, PKS, PKB, PAN, PPP dan 18 partai gurem gagal PT lainnya- diperkirakan bakal menang dengan mudah. Ditambah lagi elektabilitas SBY yang terus melambung. Bahkan menurut survey, SBY dipasangkan dengan siapapun tingkat elektabilitasnya masih relatif tinggi. Tetapi bukan berarti tak ada jalan bagi calon-calon lain untuk mengalahkan SBY di pilpres awal juli nanti.
Lain matematik lain politik.
Peluang pesaing SBY itu ada, bahkan “sangat” ada. Tetapi peluang itu tidak muncul dengan cara cercaan, fitnah, dan menyombongkan diri. Tetapi bagaimana para calon bisa lebih mengambil simpati rakyat dengan menawarkan janji-janji yang dikemas dengan baik, elegan dan realistis. Tidak hanya janji-janji kosong yang membodohi dan membutakan rakyat agar mau memilihnya.
Dengan kata lain, masing-masing pasangan, termasuk SBY-Boediono, mempunyai peluang relatif sama dengan kekurangan dan kelebihan mereka masing-masing.
SBY-Boediono

-
-
-
Tak bisa dipungkiri lagi, pasangan SBY-Boediono sudah di atas angin. Didukung partai pemenang pemilu legislatif, 4 partai papan tengah dan 18 partai gagal PT lainnya membuat pasangan ini sudah sangat percaya diri menghadapi hajatan 8 Juli nanti. Bagaimana tidak, popularitas SBY yang terus melambung, ditambah lagi dukungan partai-partai yang jika ditotal mencapai 49% suara (mengalahkan pasangan-pasangan Mega dan JK yang masing-masing 18% suara). Belum lagi dukungan-dukungan dari puluhan lembaga non-parpol lainnya. Tak ayal pasangan ini sudah dapat mencium aroma kemenangan pada pemilihan presiden nanti.
Dengan popularitas dan dukungan yang luar biasa itu bukan berarti pasangan SBY-Boediono ini tidak bermasalah. Boediono, yang tidak diduga-duga sebelumnya, dipinang SBY untuk mendampinginya menempati kursi wapres. Boediono, sempat mendapat resistansi luar biasa dari partai-partai koalisi Demokrat maupun para pendukung SBY. Kebanyakan dikarenakan Boediono merupakan seorang professional yang jauh dari kehidupan politik dan bukan dari kelompok yang mempunyai basis massa. Padahal sebelumnya diharapkan wapres pendamping SBY adalah dari parpol koalisinya yang sudah teruji kemampuan politiknya.
Selain itu, isu-isu penganut setia sistem ekonomi liberal sangat melekat pada diri Boediono. Hal inilah yang akan dijadikan “sasaran tembak” bagi pasangan-pasangan lain yang lebih berorientasi pada sistem ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan sektor riil.
Selain itu, yang melemahkan pasangan ini adalah tidak terwakilinya figur Jawa dan non-Jawa. SBY dan Boediono sendiri bahkan berasal dari satu propinsi, yakni Jawa Timur.
Dilain pihak, SBY-Boediono lah pasangan yang dianggap paling ideal. Komitmen, chemistry, sinergitas dan sesuai kebutuhan adalah yang terpenting ketimbang figur dan latar belakang calon. Selalu santun, menjaga lisan dan berwibawa akan menjadikan nilai tambah tersendiri bagi pasangan ini.
Megawati-Prabowo

-
-
-
Pasangan Megawati-Prabowo adalah salah satu pesaing SBY-Boediono yang paling optimis bisa menang. Jargon ekonomi kerakyatan dan pelopor sembako murah terbukti efektif mengambil hati rakyat. Figur Soekarno juga melekat pada diri Megawati. Figur Soekarno inilah yang turut mendongkrak popularitas Megawati terutama dari kalangan tua. Sedangkan Prabowo, calon wapresnya yang dinilai sudah satu platform sejak awal dan sama-sama penggagas perubahan bangsa- pada sistem ekonomi khususnya. Ditambah lagi sokongan finansial yang sangat kuat untuk membiayai kampanye pilpres mendatang.
Tetapi keputusan megawati menaruhkan pilihan kepada Prabowo menjadi sebuah pertaruhan. Prabowo yang sering dikaitkan dengan penculikan aktivis HAM tahun 97-98 silam menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Megawati, meskipun bukan merupakan ancaman yang serius bagi popularitas pasangan. Tetapi ini tugas yang cukup berat bagi Megawati untuk membersihkan nama Prabowo terutama di kalangan aktivis sendiri.
Untuk itu Pasangan Megawati-Prabowo harus pandai-pandai merumuskan agenda perubahan yang benar-benar visioner realistis dan tidak hanya mengandalkan figur Soekarno serta janji-janji sembako murah.
Akankah blok “haluan perubahan” Megawati-Prabowo bisa mengalahkan blok “lanjutkan” dari SBY-Boediono?
JK-Wiranto

-
-
-
Tegas-Tangkas-Progresif, itulah gambaran Raja Bugis Jusuf Kalla. Dengan karakter Kalla yang seperti itulah dia menjanjikan perubahan bangsa yang lebih cepat. Kalla dianggap yang paling responsif dalam menjalankan pemerintahan dibandingkan SBY yang dianggap terlalu berhati-hati dan lamban dalam mengambil keputusan. Bahkan mengklaim bahwa dia adalah kunci sukses dibalik keberhasilan pemerintahan SBY.
Mungkin karakter itu bisa menjadi alternatif bagi pemimpin Indonesia yang selama ini lebih ke figur seorang Jawa yang kalem, hati-hati, santun dan selalu menjaga citra. Tetapi persoalannya apakah karakter dan gaya kepemimpinan Kalla yang seperti itu bisa diterima masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya terkonsentrasi di Jawa? Belum lagi mitos bahwa calon presiden selain dari Jawa tidak akan menang dan mampu menduduki kursi presiden di negeri ini.
Memang dikotomi Jawa-non Jawa tidak bisa lepas dari pasangan Capres dan Cawapres. Dengan keterwakilan Jawa dan non-Jawa dalam pasangan JK-Wiranto mungkin bisa menjadikan pertimbangan bagi masyarakat luar Jawa kenapa harus memilih pasangan ini.
Sebenarnya permasalahan dari pasangan ini tidak hanya soal gaya kepemimpinan, Kalla juga mempunyai PR besar dalam memutihkan kembali pandangan publik terhadap Wiranto yang dianggap terlibat pelanggaran berat HAM di Timor timur beberapa tahun silam.
Tetapi mereka yakin bahwa mereka mempunyai peluang besar untuk menang karena mereka menganggap bahwa pasangan mereka adalah yang paling ideal dan mampu merumuskan agenda perubahan yang lebih cepat dan lebih baik sesuai hati nurani.
. . .
Setelah kita ketahui bersama, semua pasangan membawa kelebihan maupun kekurangannya masing-masing. Mereka sama-sama memanfaatkan celah kekurangan tersebut untuk saling menjatuhkan satu sama lain.
Tetapi terlepas dari itu semua, mereka sama-sama mempunyai visi mulia yang sangat meyakinkan untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik (insyaallah).

Tidak setuju SBY-Boediono? Tidak usah contreng, pilih Mega-Pro. Tidak setuju Mega-Pro? Pilih JK-Win. Tidak setuju JK-Win? Pilih SBY-Boediono. Tidak suka ketiganya? Jangan Golput! Pilih satu dari ketiganya yang jelek itu, pilih yang paling baik dari yang jelek. Saya yakin pasti ada.
Leave your response!