Menjadi PENEGAK HUKUM diantara Para (mafia) Penegak Hukum
“Ketika hukum tidak lagi menjadi panglima di negerinya sendiri… “
******, 23 Januari 2010
Disini kisah itu berawal,
Pukul 8.15 pagi, sesaat setelah selesai menyantap sarapan pagi bersama keluarga di meja makan,
“Ayah, Doni akan mengurus perpanjangan SIM pagi ini. SIM A dan SIM C Doni tahun ini habis masa berlakunya.” Laporku kepada Ayah yang saat itu sedang menengguk secangkir kopi panas. “Iya, Doni. Keperluan-keperluan untuk perpanjangan apa sudah disiapkan?” , tanya Ayah seketika setelah menaruh cangkir di meja. Dengan tampang meyakinkan dan mengangguk-anggukkan kepala saya menjawab, “Sudah, Ayah. Semalam sudah Doni siapkan dan mengenai prosedur sudah Doni tanyakan ke Pak Said.” Pak Said adalah polisi lalu lintas yang berumah tinggal disebelah rumaku. Aku sering berdikusi mengenai isu-isu yang melibatkan kepolisian dengan beliau.
“Kalau begitu segera ke Polres untuk mengurusnya”, jawab Ayah kemudian.
Setelah mengambil tas yang berisi dokumen-dokumen perpanjangan SIM, aku berpamitan kepada Ayah dan Bunda, menyalami dan saya cium tangan mereka bergantian. Saat menyalami Bunda, “Ini uang dua ratus sepuluh ribu rupiah hasil dari tabungan yang Doni berikan ke Bunda kemarin”, Kata Bunda sambil mengambil tiga lembar uang dari kantong dasternya. Aku baru ingat kalau malam harinya saya menyerahkan kaleng celengan (2) penuh sesak berisi uang receh untuk ditukar dengan uang kertas karena Bunda sedang membutuhkan uang receh saat itu. Kalau boleh bercerita, itu adalah kaleng tabungan uang receh sejak saya duduk di bangku SMP. Itu artinya sudah tujuh setengah tahun kaleng itu ada.
“Terima kasih, Bunda”, aku terima uang itu dan beranjak pergi dari ruang makan dengan salam. Segera aku menuju garasi untuk mengambil motor yang kemarin malam aku pinjam dari sepupu. Karena motor satu-satunya di rumah saya bawa ke Jogja untuk kuliah.
Aku menjalankan motor keluar kompleks perumahan menuju jalan raya. Di sepanjang jalan aku bergumam takjub. Sugguh banyak perkembangan di kota ini. Mulai pelebaran jalan, pembangunan infrastruktur, sampai sekolah SMA-ku yang dahulu mendapat julukan pagupon(3) –pun sekarang tampak lebih modern dengan cat warna hijaunya dan tulisan-tulisan bahasa asing disepanjang taman sekolah yang tampak dari jalan raya.
Pada saatnyalah aku sampai di kantor pemotretan dan uji kesehatan. Waktu menunjukkan pukul 9.30. Disana puluhan orang antri untuk difoto dan diuji kesehatannya. “Bisa saya bantu, Mas?”, tampak seorang polisi dengan ramah menyapa dan menawarkan bantuan kepadaku. “Begini, Pak, saya mau mengurus perpanjangan SIM….”, belum selesai menjelaskan si Pak polisi langsung menunjuk bangku antrian, “Silakan Mas antri disana. Nanti dipanggil sama Mbaknya yang itu.” Saya bergerak menuju tempat antrian dan memalingkan muka ke arah Mbak yang dimaksud pak polisi itu. Terlihat wajah serius dan jutek dari mbak, yang pada akhirnya saya ketahui bernama Rahma. Mungkin dia bosan setiap hari di depan komputer dan memfoto para antrian yang membutuhkannya, batinku sambil ketawa kecil.
Setelah lama menunggu, akhirnya giliran saya yang dipanggil, “Mas, silakan, mau foto?” tanyanya dengan wajah agak sedikit ramah dibandingkan yang tadi. “Iya, Mbak!”. Segera saya menempatkan diri saya di depan kamera dan “Klik!” suara kamera dan blitz menyala di depan saya. “Sudah selesai, Mas. Silakan menuju antrian di pengujian kesehatan.” Bergegas saya menuju antrian sekitar tujuh orang. Setelah kurang lebih tiga menit nama saya dipanggil, “Saudara Doni?”, seketika saya jawab “Ya, Pak”. Antrian sebanyak tujuh orang selesai dalam waktu tiga menit?! Wow, cepat sekali, apa yang diujikan di dalam? Aku bertanya-tanya dalam hati.
Kulangkahkan kakiku menuju pintu masuk ruang uji kesehatan itu. “Silakan, Mas Doni”, kata Pak dokter. “Silakan naik ke timbangan dan nanti hasilnya biar dicatat oleh Pak Bagus”, sambungnya. Aku naik ke atas timbangan dan, “Lima puluh tujuh kilo!”, teriak Pak Bagus sebagai asisten pak dokter. Aku segera menuju ke bangku di depan meja dokter. Sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas bergambar pak dokter berkata “Sekarang tes mata.”, sambil meunjuk gambar-gambar dia bertanya,
“Ini angka berapa?”
“Sembilan”
“Kemudian ini?”
“Dua puluh sembilan”
“Ini?”
“Dua belas”,
Begitu seterusnya hingga semua gambar sudah aku jawab dan aku dinyatakan lulus uji kesehatan.
“Alhamdulillah… Semua persyaratan sudah aku dapatkan, sekarang tinggal ke loket untuk mendaftar perpanjangan SIM, foto, menunggu sebentar, dan jadilah SIM-ku”, gumamku sambil tersenyum karena salah satu tujuanku pulang kampung untuk memperpanjang SIM.’
Kunaiki motorku dan menuju kantor Kepolisian Resor. Disana terdapat ruang tersendiri untuk mengurus SIM baru maupun perpanjangan. Aku parkir motorku disana dan mataku tertuju pada antrian banyak orang dan tampak juga beberapa polisi ada disana. Ada yang sibuk menjelaskan sesuatu, ada yang sedang menulis dan ada juga yang marah-marah pada orang didepannya. Semua aktifitas itu didalam ruang dari kaca yang agak gelap dihiasi lambang kepolisian resor kota ********, beberapa peraturan tegas dan beberapa orang polisi berbadan besar dan berkumis tebal berjaga di depan pintu masuk yang semakin membuat ruang itu menjadi tampak angker.
Bergegas kulangkahkan kakiku kesana dan kumasuki ruangan yang terlihat angker itu. Sudah berdiri di depan saya salah satu polisi disana dan menanyakan, “Mau ngurus SIM baru atau perpanjangan, Dek?”
“Perpanjangan, Pak”, jawabku singkat.
“Kalau perpanjangan silakan langsung daftar di loket sebelah sana”, sambil jari telunjuknya di arahkan ke loket pendaftaran sebelah kiri. Berbeda dengan polisi di jogja yang selalu menggunakan jari jempol untuk menunjukkan sesuatu.
Didepan loket saya langsung menyampaikan keinginan saya dan langsung pak polisi di loket itu meminta kelengkapan-kelengkapan untuk syarat perpanjangan SIM.
“Sudah foto dan uji kesehatan, Dek?”
“Sudah pak, ini”, sambil kuserahkan pas foto dan hasil uji kesehatan.
“KTP dan SIM lama beserta foto copy-nya?
“Ini, Pak”
“Kartu 10 sidik jari mana?”
“Loh, apa itu pak?”, sambil melongo meminta penjelasan dari bapak.
“Untuk memperpanjang SIM harus melampirkan 10 sidik jari, form-nya bisa ambil di ruang pengurusan SIM lama dan disana sudah ada petugas yang akan membantu adek.” jelasnya.
“Oohh… Segera saya mintakan, Pak”, setengah lari kutinggalkan loket menuju kantor pengurusan SIM yang lama di ujung jalan utama sebelah utara musholla. Berbeda dengan 6 tahun yang lalu yang cuma menggunakan cap jempol untuk mengurus SIM. Itupun dicap sesudah difoto. Setelah mendapatkan sidik 10 jari yang dimaksud, langsung kubawa ke loket pendaftaran tadi.
“Ini, Pak, sudah lengkapkah semuanya?”, aku bertanya, “Sudah, Dek, isi formulir ini lalu kembalikan ke saya dan tunggu nama adek dipanggil di ruang tunggu sebelah”, ujarnya.
Segera kuisi formulir tadi dan aku kembalikan ke loket. Lalu aku menunggu kurang lebih 15 menit sebelum namaku dipanggil. “Saudara Doni!”, teriak seorang polisi wanita. Segera aku mendekatinya dan dia berkata, “Mas, tanggal lahir antara KTP dan SIM tidak sama. Tidak bisa entry kalau seperti ini”. Beberapa saat kemudian ada pak polisi agak tua yang tidak kuketahui pangkatnya memanggilku, “Duduk sini, Mas”. Walaupun keluarga besarku hampir semuanya orang militer dan polisi, tapi aku tak mengenal simbol-simbol pangkat yang ada di bahu polisi tersebut. Kemudian aku turuti permintaannya untuk duduk.
“Iya, Pak, bagaimana?”
“Keterangan pada SIM lama adek tidak sesuai dengan KTP-nya. Coba lihat bagian tahun kelahirannya.” Sambil jarinya menunjuk ke SIM-ku. Aku melihat 1987 di SIM lama dan 1988 di KTP. Aku ingat sekali pada waktu itu mengurus SIM dengan menitipkan pengurusannya lewat ayah temanku SMP tanpa seijin orang tuaku waktu itu. Ternyata imbas kenakalanku bisa dirasakan sekarang. Aku kesulitan memperpanjang SIM!
“Kenapa beda tahun lahir tidak bisa memperpanjang SIM, Pak?”, tanyaku penasaran.
“Nomor di SIM itu menyesuaikan tahun lahir adek. Coba lihat ini, angka 87 di nomor SIM adek menunjukkan tanggal lahir adek”
“Kalau kasusnya semacam ini bagaimana pak solusinya?”, tanyaku lagi. Lalu pak polisi itu membuka dan mencari-cari sesuatu di dalam laci. Kemudian dia menunjukkan sebuah brosur tentang prosedur pengajuan dan perpanjangan SIM. Dalam salah satu poinnya menyebutkan bahwa merubah data pada SIM lama harus harus mengurus SIM baru lagi.
“Brarti saya harus bikin baru lagi, Pak?”
“Iya, tapi bisa dengan merubah tahun lahir pada KTP”, jawabnya. Dalam hati aku berkata, “…wah, masa polisi ini ngajarin manipulasi…”.
“Kalau begitu saya bikin baru lagi aja pak!”, tantangku.
”Ok, kalau begitu silakan menunggu di ruang tunggu lagi, nanti kami panggil untuk tes tulis dan praktek”, imbuhnya. Hmmm… ini risiko kalau mengajukan baru. Harus tes tulis dan praktek lagi. Sambil menunggu namaku dipanggil, aku melihat ke ruang tes tulis. Sangat sepi, tak ada seorangpun disana. Kembali kubertanya dalam hati, “…dimana orang-orang yang mengurus SIM tadi ya?…”
Tiba-tiba dari belakang terlihat orang tua yang kelihatannya juga mengurus Sim menyapaku, “Orang-orang tadi SIM-nya nitip semua. Ga usah tes juga udah langsung lulus. Mereka tinggal nunggu aja SIM-nya jadi”, bapak tua itu seakan-akan menjawab pertanyaanku dalam hati.
“Wah, saya tidak mau lewat cara seperti itu, Pak. Saya ikut tes saja biar tenang.”, jawabku bukan karena uang di dompet hanya dua ratus lima puluh ribu. Itupun yang dua ratus sepuluh ribu hasil dari celengan yang kutukarkan di Bunda tadi pagi.
“Ya udah, semoga berhasil”, imbuhnya. Aku mengangguk-anggukkan kepala, “Iya, Pak, terima kasih”.
Sekitar 15 menit namaku dipanggil untuk ujian tertulis. Aku memasuki ruangan tes bersama tiga polisi yang mengawasi dan salah satunya mengoperasionalkan proyektor untuk menayangkan soal tes. Aku membayangkan betapa tidak lucunya aku gagal mendapatkan SIM gara-gara tidak lulus ujian tertulis. “…Aahh tidak, aku pasti lulus…”, gumamku dalam hati.
“Silakan diisi identitas dan kode tes seperti contoh yang ada di tayangan”, perintah seorang polisi yang seketika membuyarkan lamunanku. Aku mengambil pulpen dari tas dan segera mengisi apa yang diperintahkan.
“Masing-masing ada 30 soal dan harus dijawab 18 benar untuk SIM C dan 20 benar untuk SIM A. Waktu masing-masing 15 menit. Selamat mengerjakan!”, tambahnya.
Segera aku mengerjakan soal-soal yang ditayangkan di proyektor. Ditengah konsentrasiku mengerjakan Soal, ada sesuatu yang cukup mengganggu. Ketiga polisi itu sangat berisik. Mereka saling bercerita, bercanda dan ketawa terbahak-bahak seakan-akan tidak ada aku yang sedang menjalankan tes tulis di tengah-tengah mereka. Tanpa kuhiraukan mereka telah kuselesaikan semua soal yang ada.
“Sudah selesai, Pak!”
“Oh, iya, sini saya koreksi dulu jawabannya”, sambil mengambil kunci jawaban, dia pelan-pelan mengoreksi jawabanku. Di tengah resah sambil menunggu pak polisi memberikan hasilnya. “Untuk ujian SIM C, anda benar 18 soal dan SIM A anda benar 19 Soal.” Wah,itu artinya ujian SIM A ku tidak lulus!
“Ujian SIM C dinyatakan lulus dan SIM A dinyatakan tidak lulus karena tidak berhasil mengerjakan 20 soal benar”, paparnya. “Inna lillahi wa inna ilaihirrajiun… Kurang 1 soal benar saja saya lulus seharusnya!”, aku menyela dengan tampang kecewa dan agak kesal. Kemudian pak polisi menulis sesuatu di form kertas kecil. Kemudian ia menyampaikan,
“Silakan kembali tanggal 30 Januari untuk ujian ulang. Selama seminggu gunakanlah untuk belajar”
“Saya sudah tidak di ******, Pak tanggal 30. Selasa saya harus sudah di Jakarta”, imbuhku.
“Ini kepentingan adek, kami hanya menjalankan prosedur. Sekarang ujian praktek SIM C dulu aja. SIM A kapan-kapan. Tolong bawa kendaraan adek ke lapangan ujian praktek sekarang”, pungkasnya tegas.
Sambil tertunduk lesu aku mengiyakan imbauan polisi itu. Aku ambil motorku dan kuarahkan ke lapangan yang diminta. Telah disiapkan disana track ujian praktek mengendarai motor, mulai track berbentuk angka 8, jalan zig-zag sampai jalan yang sangat sempit. Semuanya harus dilewati dengan sekali jalan dan dilarang menyentuh pembatas yang ada. Dia mempersilahkan aku untuk mencoba track dengan urutan track angka 8, jalan sempit kemudian terakhir jalan zig-zag. Lalu aku mulai mencobanya dan kukerahkan semua keahlianku dalam mengendarai motor. Walaupun aku bukan bagian dari gank motor, tapi sekali dua kali mencoba aku sudah sangat menguasai track-nya dengan motorku.
“Sudah siap, Pak!”, sambil aku arahkan motorku pada titik start yang ditunjukkan oleh pak polisi itu. “Yak, mulai!”, teriak pak polisi menandakan aku harus mengendarai motorku melewati track itu. Aku tarik gas motorku dengan penuh optimisme dan keberhasilan sudah ada di depan mata tetapi tiba-tiba pak polisi berada di depan motor saya yang sedang melaju dan Priiittt…!! suara peluit dan pak polisi itu dengan tangannya menginstruksikan untuk belok ke kanan. Karena motor sudah melaju, aku reflek menginjak rem dan berhentilah motorku. Aku sudah tidak berpikiran untuk belok karena motorku sudah sangat dekat dengan polisi itu dan hampir menabraknya.
“Itu tadi bukan aba-aba berhenti, tapi belok kanan, Dek!”, bentaknya.
“Lah, Pak, bapak terlalu mendadak instruksinya! Tiba-tiba aja bapak berdiri di depan motor saya, gimana saya mau belok, kaget lihat bapak tiba-tiba di depan saya. Ya saya reflek injak rem. Bapak juga tidak memberi tahu kalau ada ujian instruksi dari polisi!”
Ditengah kemarahanku di tengah lapangan polisi yang satunya sudah membersihkan lapangan dari alat-alat dan rambu-rambu yang digunakan untuk ujian praktek.
“Loh, Pak, kok sudah diberesin? Saya ga bisa nyoba lagi?”, tanyaku kesal.
“Tidak bisa, Dek! Hanya sekali kesempatan. Ujian ini menggunakan sistem gugur. Sekali gagal ya sudah”, paparnya yang membuat aku semakin kesal dan jengkel.
Kemudian aku digiring ke kantor pengurusan SIM lagi dan diberi kembali surat untuk ujian ulang pada tanggal 30 Januari seperti halnya SIM A tadi. Ya Allah….. Sungguh aku sangat menyesali kegagalanku dan aku tidak bisa menahan emosiku sejak tadi.
“Sudah saya katakan di awal, Pak! Saya tidak bisa tanggal 30 Januari. Saya sudah harus balik ke Jakarta. Kenapa tidak Senin saja ujian ulangnya?”, tanyaku dengan nada semakin tinggi.
“Tidak bisa, Dek! Ini prosedur! Kami harus profesional!”, bentaknya. Tampaknya ia juga mulai kesal dengan perkataanku. Aku semakin kesal dengan kata-kata “prosedur” dan “profesional” yang diungkapkan polisi itu. Apa yang prosedur?? Apa yang profesional?? Puluhan orang tadi tidak tes! Langsung mendapat SIM! Aku terganggu oleh suara mereka yang berisik saat aku ujian tulis! Itukah profesional?? Itukah prosedur?? Cuma aku yang profesional dan prosedural dalam mengajukan SIM! Aku menggerutu kesal dalam hati. Sudah berjam-jam aku disini melewati berbagai prosedur tetapi gagal mendapatkan SIM itu.
Akupun mulai mendesak polisi itu, “Coba saya pengen lihat peraturan yang mengatur masa tenggang uji ulang!”, tanyaku dengan nada lebih tinggi lagi. Kemudian mereka menunjuk papan terpasang di dinding tentang prosedur ujian ulang. Disana disebutkan waktu 14 hari setelah tes tulis/praktek untuk mengadakan ujian ulang karena tes tidak lulus. Aku terus berusaha menjejal pertanyaan-pertanyaan untuk mementahkan argumennya, “Pak, disana tercantum ujian ulang 14 hari setelah tes, kenapa bapak ngasih saya waktu 7 hari? Ini tidak prosedural dan sangat tidak profesional!! Lalu mana peraturan mengenai ujian praktek harus sekali jadi dan tidak bisa di ulang?!”, bentakku yang semakin kesal.
Sang bapak tidak bisa menjawab, kemudian polisi muda dibelakang saya mengatakan, “Ada cara lain mas, tapi biayanya 200 ribu per SIM. Hari ini sudah bisa diambil langsung”, katanya lembut. Wajahku memerah dan aku sangat kesal dengan pernyataannya, “Saya tidak akan mengikuti cara yang salah seperti mereka yang mampu membayar SIM tanpa tes! Saya butuh pelayanan dan keadilan dari bapak! Bapak adalah pelayan masyarakat! Saya adalah masyarakat itu! Bapak harus melayani saya dengan profesional! Mau jadi apa negeri ini kalau hal kecil seperti ngurus SIM saja sudah ada proses sindikat tidak benar seperti ini?!”, aku naik pitam sambil membentak-bentak mereka seolah-olah akulah komandan mereka.
“Ini kepentingan adek!! Kalau tidak mau mendapatkan SIM ya sudah!! Ini kewenangan kami untuk meberi waktu adek sampai minggu depan! Terserah adek mau kesini atau tidak!!”, tak kalah kencangnya bentakan dari polisi yang mengujiku tadi. Aku beranjak dari tempat duduk dan langsung menuju pintu keluar dan polisi itu kembali memanggilku, “Gimana, Dek?”,
“Sudah saya katakan di awal, saya ingin sesuai prosedur bukan lewat mafia SIM! Saya lebih baik tidak memperpanjang SIM saya. Saya akan taat prosedur!”, tandasku meyakinkan. Polisi muda yang tadi ada dibelakangku membuntutiku sampai ke pintu keluar kantor pengurusan SIM. “Sudah cukup, Pak!”, sapaan terakhirku dengan muka kesal dan penuh kekecewaan.
Dibalik kekecewaan itu aku tetap berjalan meninggalkan ruang dengan dada tegap, berjalan penuh keyakinan…
“…Memang aku satu-satunya orang yang gagal dalam mendapatkan SIM hari ini, tetapi aku adalah satu-satunya orang yang tidak mau berbuat hina dan korup seperti yang lain. Akulah penegak hukum! Hanya aku yang mampu menegakkan hukum disini… menegakkan hukum di negeri para (mafia) penegak hukum…”
…
TAMAT

Leave your response!