“Ketika hukum tidak lagi menjadi panglima di negerinya sendiri… “
Sebuah cerpen, terinspirasi dari kisah nyata dialami oleh penulis saat berurusan dengan para penegak hukum di kantor Kepolisian Resor Kota ******(1) pagi tadi.
******, 23 Januari 2010
Disini …
“Ketika ikrar hanya sebatas sejarah untuk dikenang…”

Delapan puluh satu tahun silam, 28 oktober 1928, para pemuda-pemudi nusantara berkumpul disatukan oleh ruh semangat cinta tanah air dengan penuh antusias menyatakan tiga inti ikrar gagasan pemersatu bangsa; satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia.
…
Suatu realita historis yang tak terbantahkan, generasi 1928 adalah generasi perintis berkomitmen tinggi mempersatukan bangsa dan melepaskan rakyat dari segala bentuk pendegradasian manusia, khususnya penjajahan yang berkepanjangan. Dapatlah kita bayangkan betapa gigihnya bangsa yang dipelopori pemuda idealis untuk menjadikan bangsa ini sebagai bangsa merdeka, mandiri, dan bermartabat.
Semangat dan komitmen inilah yang dipandang sebagai cikal-bakal pembentukan negara kesatuan Republik Indonesia. Patut kita akui bahwa Sumpah Pemuda adalah sumpah bagi tegaknya persatuan Indonesia. Sumpah itu telah mampu menyatukan rakyat yang tersebar luas dan tercerai-berai akibat politik devide et impera yang digerakkan kolonialisme Belanda. Maka harus diakui juga bahwa kemerdekaan yang kita nikmati sekarang merupakan buah manis dari sumpah itu.
…
Hari ini, 28 Oktober 2009, Hari Sumpah Pemuda serempak diperingati di seluruh pelosok negeri. Hari dimana pemuda dielu-elukan sebagai tonggak pemersatu bangsa, sebagai penegak jati diri bangsa, sebagai harapan dan pembaharu bangsa. Kata-kata manis bermakna yang begitu menggugah para pemuda yang mendengarnya. Normatif memang, tetapi semua itu tidak salah sebab sejarah telah membuktikan bahwa negara ini berdiri berkat kontribusi besar pemuda di dalamnya.
“Ketika kemerdekaan hakiki bergeser menjadi kemerdekaan semu…”
-(Tepat) 64 tahun silam, atas nama bangsa Indonesia melalui dua anak negeri, Soekarno dan Hatta meproklamasikan kemerdekaan Indonesia sebagai negara republik yang berdaulat. Teks proklamasi yang dibacakan Soekarno 64 …
“Setelah hampir lima tahun (seakan) dilupakan, kasus ambalat kembali panas setelah beroperasinya kapal perang Diraja Malaysia. Kedua negara (Indonesia dan Malaysia) saling klaim terhadap wilayah lautnya di Ambalat. Kedaulatan siapakah?”
Begitu media menyampaikan kabar dari ambalat, …
Beberapa minggu terakhir isu ekonomi menjadi isu terpanas di negeri ini. Setidaknya ini menjadi gambaran fokus pemerintah untuk segera menyelesaikan isu tersebut untuk mencapai target kesejahteraan rakyat. Tetapi apakah ekonomi adalah isu utama yang paling …
Tiga pasang Calon Presiden dan Wakil Presiden telah mendaftarkan diri ke KPU. Kini sudah sangat jelas wajah-wajah calon pemimpin bangsa kita yang akan datang.
“Sudah saatnya-lah bagi kita untuk mengenal, menimbang, dan menentukan, siapakah yang terbaik …
Penurunan BI rate
Bank Indonesia kembali mengeluarkan kebijakan moneternya dengan menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin dari dari 7,5 % menjadi 7,25 %. Penurunan ini diharapkan dapat mendongkrak sektor riil dan peningkatan kapasitas industri domestik. …
Hujan deras kritikan menghampiri Komisi Pemilihan Umum (KPU) setelah beberapa hari pemilu dihelat. Mulai elit parpol, politisi, akademisi, mahasiswa sampai masyarakat mengkritisi kinerja KPU. Bahkan sampai ada pernyataan bahwa pemilu kali ini adalah pemilu terburuk …
Hasil tabulasi final Pemilu legislatif 2009 belum selesai. Tapi berdasarkan hasil perhitungan cepat (quick count) dr beberapa lembaga survey di indonesia bisa ditebak partai mana yang akan menduduki senayan.
Diperkirakan akan ada 9 partai yang menduduki …
Tulisan memang sebuah fenomena.
Sesuatu yang tak pernah bisa ditebak dan diprediksikan akan dampak olehnya. Tulisan penuh sarat perjuangan. Begitu tulisan itu tercipta dan sampai ke masyarakat, maka dia akan menemukan bentuk perjuangannya sendiri. Dia …